EntertainmentNews

Film Air Mata Mualaf: Antara Hati Yang Ingin Jaga keluarga Dan Ingin Jujur Pada Diri Sendiri

Akhirnya film Air Mata Mualaf siap tayang. Sejak trailer pertama dan kedua dirilis, penikmat film diperlihatkan dua lapis perspektif, pencarian jati diri Anggie serta gejolak keluarga ketika perbedaan muncul di tengah mereka. Sedangkan trailer kedua yang lebih intens memperlihatkan pertanyaan yang banyak dialami manusia modern yakni kegalauan hati  apakah ini hidayah atau jalan pelarian saja.

Konferensi pers dan press screening film Air Mata Mualaf yang diselenggarakan pada Rabu (19/11) di XXI Epicentrum, Jakarta, menjadi momentum para kreator dan jajaran pemain untuk pertama kalinya menguraikan secara mendalam bagaimana film ini membahas tema keluarga, perbedaan keyakinan, keberanian memilih jalan hidup, serta hidayah yang kerap datang tanpa diduga.

Sutradara Indra Gunawan menekankan bahwa film ini dibangun bukan untuk menggurui,tetapi untuk memotret manusia saat berhadapan dengan persimpangan hidup. Ia membuat film ini bukan untuk menunjukkan siapa yang benar atau salah.

“Fokus kami adalah menghadirkan manusia apa adanya, dengan ketakutan, cinta, dan keberanian mereka. Setiap orang pernah berada di titik ketika ia harus memilih jalannya sendiri, dan proses itulah yang kami ceritakan,” imbuhnya.

Produser Dewi Amanda menambahkan bahwa keberanian untuk mengangkat tema sensitif justru berangkat dari kedekatannya dengan realitas. Menurutya perbedaan dalam keluarga sering dipandang sebagai ancaman.

“Tetapi melalui film ini, kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan bisa menjadi ruang belajar. Hidayah atau jalan pilihan tidak datang karena paksaan manusia; ia datang dari Tuhan. Film ini mengajak penonton melihat itu dengan hatiyang lebih lembut,” jelasnya.

Pada sisi karakter, Acha Septriasa mengungkapkan bahwa peran Anggie memberinya perspektif baru tentang keteguhan hati seorang perempuan. Di depan awak media Acha berujar bahwa Anggie adalah sosok yang memilih tanpa membenci dan melangkah tanpa marah. Dia tahu apa yang ia rasakan sebagai kebenaran, tetapi ia juga mencintai keluarganya dengan sangat dalam.

“Peran ini mengingatkan saya bahwa memilih jalan sendiri bukan tindakan meninggalkan, tetapi keberanian untuk jujur pada diri sendiri,” tuturnya.

Sementara Achmad Megantara, yang berperan sebagai seorang Ustad, menyoroti bahwa perjalanan spiritual seseorang tidak pernah seragam. Ia menjelaskan banyak orang datang kepada keyakinan bukan karena amarah, tetapi karena panggilan. Hidayah tidak bisa ditebak, dan tidak semua orang bisa memahaminya di waktu yang sama.

“Melalui karakter saya, film ini ingin menunjukkan bahwa dialog antara iman dan kemanusiaan harus selalu diberi ruang,” lanjutnya.

Dalam perspektif keluarga, Rizky Hanggono bercerita bahwa beberapa adegan menggugah pengalaman pribadinya. seperti ada  adegan yang membuatnya teringat pada adik perempuan.. Konflik keluarga sering kali lahir bukan dari kebencian, tetapi dari rasa takut kehilangan. Film ini mengingatkan bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti mengarahkan hidupnya.”

Air Mata Mualaf juga menjadi simbol kolaborasi lintas budaya, melibatkan industri film Indonesia, Malaysia, dan Australia. Para aktor internasional, Syamim Freida, Hazman Al Idrus, dan Matthew Williams—memberikan warna baru dalam proses kreatif, menegaskan bahwa cerita mengenai keluarga dan pencarian arti hidup adalah bahasa universal.

Air Mata Mualaf tidak menawarkan satu jawaban pasti. Film ini justru membuka ruang tanya, ruang refleksi, dan ruang dialog. Sebagaimana disampaikan Sutradara Indra Gunawan bahwa “Hidup tidak pernah menutup cerita dengan satu jawaban. Yang ada hanya perjalanan, pertumbuhan, dan keberanian seseorang untuk berkata dalam hati: inilah jalan pilihanku.”

Film Air Mata Mualaf tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 November 2025, disusul Asia Tenggara dan Timur Tengah pada awal Desember. (teks: bell, foto: dok.ist)

 

 

 

Comment here